Featured Image
Awalnya, tidak ada yang mengira bahwa tsunami yang menerjang pesisir Selat Sunda kemarin ternyata benar-benar ada hubungannya dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Gunung yang berada di tengah perairan antara Pulau Jawa dan Sumatera ini, memang berstatus waspada sejak mulai aktif dari bulan Juni 2018 lalu. Meskipun begitu, tampaknya tidak ada pembicaraan soal potensi tsunami dari aktivitas vulkanik ini sebelum akhirnya tragedi memilukan itu terjadi pada tanggal 22 Desember kemarin.

Di samping lagi-lagi memperlihatkan ketidaksiapan bangsa ini menghadapi bencana, tsunami yang dipicu erupsi Anak Krakatau ini membuat banyak orang teringat dengan letusan dahsyat ‘ibu’-nya yaitu Gunung Krakatau pada tahun 1883. Letusan Krakatau pada tahun 1883 selalu disebut sebagai salah satu letusan gunung berapi yang paling dahsyat di muka bumi ini. Letusan ini bahkan juga dilaporkan diikuti tsunami setinggi 40 meter dan mengubah cuaca di seluruh dunia! Untuk menenangkan masyarakat, Pak Sutopo mengatakan kalau Anak Krakatau ini tidak akan meletus besar seperti Krakatau pada tahun 1883. Memang seperti apa sih dahsyatnya letusan Gunung Krakatau kala itu? Yuk baca selengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

1. Erupsi Gunung Krakatau tahun 1883 disebut tragedi gunung api terpenting dalam sejarah manusia dan keilmuan. Untuk pertamakalinya, manusia bisa meneliti dan mencatat dampak letusan besar gunung berapi

Letusan gunung sebesar ini sebelumnya tidak tercatat dengan baik. Gambar: Gunung Anak Krakatau bulan Desember 2018. via www.bbc.com

2. Setelah sebelumnya ‘tertidur’ selama 200 tahun, Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus hebat pada tanggal 27 Agustus 1883. Letusannya begitu dahsyat sampai-sampai hampir seluruh badan gunung ini menghilang

Pada dasarnya, Gunung Krakatau ‘meledakkan diri’ pada tahun 1883. Gambar: Gunung Anak Krakatau bulan Desember 2018. via www.nationmultimedia.com

Mirip dengan kejadian tahun 2018 ini di mana Anak Krakatau sebenarnya sudah mulai aktif sejak bulan Juni, aktivitas Gunung Krakatau pada tahun 1883 juga sempat ‘dormant‘ alias ‘tidur’ sejak pertamakali terdeteksi aktif pada bulan Mei 1883 sebelum akhirnya meletus hebat tiga bulan setelahnya pada bulan Agustus 1883. Masyarakat kala itu dilaporkan mengira situasi sudah tenang dan tidak mengira Gunung Krakatau akan meletus lebih hebat. Perilaku tenang sebelum akhirnya kembali meletus, memang sering ditemui dalam pola letusan gunung-gunung berapi.

3. Letusannya setara dengan 13.000 kali bom atom atau ledakan 200 megaton peledak TNT. Saking banyaknya material vulkanik yang dikeluarkan, abu pekat sampai menutupi langit Jawa dan Sumatera selama tiga hari berturut-turut

Banyak wilayah gelap gulita karena pekatnya hujan abu. Gambar: Gunung Anak Krakatau bulan Desember 2018. via www.straitstimes.com

4. Bahkan partikel-partikel kecil abu vulkanik dari letusan Krakatau tahun 1883 ini, sampai menutupi 70% dari atmosfer bumi. Akibatnya, sinar radioaktif matahari terpantulkan dan suhu bumi turun sebesar 1 derajat Celsius!

Suhu bumi baru berajak normal 5 tahun setelah letusan Krakatau tahun 1883 via www.theatlantic.com

5. Perubahan ekstrem ini juga bisa diamati langsung lewat perubahan warna langit di seluruh dunia. Pasca letusan Krakatau 1883, langit pagi dan sore seringkali berwarna merah seperti yang digambarkan pelukis Inggris ini

Lukisan pelukis William Ashcroft ini jadi bukti dampak letusan Krakatau yang terpantau di Inggris via hyperallergic.com

6. Bukan cuma penampakan dan suhu bumi saja yang berubah, suara letusan Gunung Krakatau tahun 1883 juga digambarkan sebagai salah satu suara terkeras yang pernah didengar orang di muka bumi ini

Suara letusan Krakatau sampai melintasi benua dan terdengar di Australia dan Afrika via www.ststworld.com

7. Sebanyak 36.000 ribu orang dikabarkan meninggal dalam peristiwa ini. Kebanyakan korban meninggal bukan karena dampak langsung letusan, tapi karena tsunami raksasa setinggi 41 yang menyapu ratusan desa pesisir

Ini juga merupakan salah satu tsunami terbesar yang pernah terjadi di dunia. Karang seberat 600 ton sampai tersapu ke pantai via www.smh.com.au

8. Nggak hanya di daratan sekitar Selat Sunda aja yang mengalami tsunami, gelombang besar juga terjadi di San Fransisco, Afrika Selatan, dan Kepulauan Aleut di Alaska

Gelombang tinggi pun ditemukan di berbagai negara lain via commons.wikimedia.org

9. Gunung Krakatau yang tadinya memiliki empat puncak dikelilingi pulau kecil, hampir habis tidak bersisa akibat letusan tahun 1883. Tiga puncaknya meletus habis hingga pulaunya pun hilang tenggelam

Beginilah gambaran Gunung Krakatau sebelum terjadi erupsi besar. via www.thoughtco.com

10. Dari kawah bawah laut yang terbentuk pada letusan tahun 1883 itulah, Gunung Anak Krakatau ‘lahir’. Pada tahun 1927, tiba-tiba gunung baru ini meletus dari dalam laut dan memperlihatkan wujudnya

Awalnya sih memang kecil, tapi Gunung Anak Krakatau terus bertumbuh. via www.tourkrakatoa.com

Karena terletak dan terbentuk di lempengan yang sama dengan ‘ibu’-nya, banyak ahli berpendapat bahwa tipe letusan dan potensi Anak Krakatau akan sama dengan Krakatau. BNPB sendiri sudah menyatakan, sebagaimana dilansir dari Kompas, kalau letusan Anak Krakatau 2018 ini tidak akan separah atau sebesar letusan ‘legendaris’ Krakatau pada tahun 1883. Masih menurut laporan tersebut, para ahli memprediksi masih diperlukan 500 tahun lagi sebelum letusan besar kembali terjadi.

Namun setelah tragedi tsunami yang terjadi di pesisir Selat Sunda kemarin, kita jelas harus lebih waspada akan potensi bahaya yang mungkin belum diketahui dari gunung ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here