belva devara ceo ruangguru

jadibegitu – Menjadi seseorang yang kaya dan sukses di usia muda merupakan dambaan setiap orang. Salah satu caranya adalah dengan menjadi seorang entrepreneur! Namun, untuk mencapai hal tersebut bukanlah perkara mudah. Butuh usaha, kerja keras, konsistensi, dan keberuntungan.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita perlu berbangga, loh! Karena, banyak anak muda Indonesia yang bertalenta dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Majalah Forbes memberikan apresiasi kepada 30 orang yang berusia di bawah 30 tahun, yang telah berkontribusi membawa perubahan, melalui Forbes 30 under 30. Berikut ini adalah daftar 3 entrepreneur muda sukses, yang berhasil masuk di Forbes 30 Under 30.

Adamas Belva Syah Devara

Belva Devara CEO Ruangguru.

Adamas Belva Syah Devara adalah Co-Founder & CEO Ruangguru, perusahaan startup pendidikan terbesar di Indonesia. Lulusan dari Stanford dan Harvard University ini merupakan salah satu entrepreneur muda terbaik yang dimiliki Indonesia. Pada tahun 2017, ia terpilih sebagai salah satu dari Forbes 30 under 30 Asia oleh Forbes Magazine, sebuah penghargaan untuk pengusaha berpengaruh di dunia.

Pria yang lahir di Jakarta pada 30 Mei 1990 ini bukanlah datang dari keluarga pengusaha. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Meskipun begitu, sejak kecil, orang tuanya selalu berusaha untuk memberikan pendidikan yang terbaik. Nilai yang selalu ditanamkan kepada Belva ini pula yang menjadi pendorongnya untuk berkontribusi bagi negeri, yaitu pendidikan.

Sebelum membangun Ruangguru, Belva bekerja di McKinsey & Company. Selama di McKinsey, Ia berhasil mendapatkan prestasi sebagai Top 5% Performer dan Client First Award 2012 dari McKinsey & Co Asia Tenggara berkat performa baiknya yang diakui dan diapresiasi para klien.  Selama bekerja di sana, ia memimpin berbagai studi terkait transformasi sistem pendidikan dan strategi peningkatan kesehatan publik untuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Kini, Ruangguru telah memiliki lebih dari 15 juta pengguna serta mengelola 300.000 guru yang menawarkan jasa di lebih dari 100 bidang pelajaran.

Baca Juga : Belajar Dari Kasus Jefri Nichol, Ini Cara Menghindari Narkoba buat lo Para Remaja!

M. Alfatih Timur

M. Alfatih Timur CEO Kitabisa.com

Muhammad Alfatih Timur yang akrab dipanggil Timmy, adalah seorang aktivis sosial dan sociopreneur. Lahir di Bukittingi pada 27 Desember 1991,  dia adalah Co-Founder & CEO Kitabisa.com, sebuah platform crowfunding / pengumpulan dana online. Melalui Kitabisa.com, Timmy telah meraih berbagai penghargaan di bidang wirausahawan sosial. Salah satunya adalah Forbes 30 under 30 tingkat Asia untuk kategori wirausaha sosial.

Ketika masih dalam bangku sekolah, Timmy merupakan anak yang dikenal “cupu”. Namun hal itu tidak lantas membuatnya menjadi anak yang minder. Pada 2005-2007 masuk dalam kelas akselerasi SMA Negeri 1 Padang. Lulus SMA, ia melanjutkan kuliah Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia. Saat kuliah, Timmy aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Dia tercatat penah menjabat sebagai Ketua Departemen Kemahasiswaan BEM Fakultas Ekonomi UI dan BEM UI. Selama di UI, dia sering terlibat dalam kegiatan demonstrasi bersama teman-temannya.

Namun, saat itu Timmy belum benar-benar memahami apa yang sebenarnya diperjuangkannya. “Hingga saat itu, ada seorang ibu-ibu yang memberikan saya sekotak air mineral. Di sana dia bilang, ini titip untuk teman-teman yang lainnya. Kalian sedang memperjuangkan nasib kami,” ungkap Timmy. Mendengar hal tersebut, ia akhirnya menyadari apa tujuan dari hal yang dia lakukan. Banyak masyarakat, terutama di lapisan bawah yang mengalami berbagai tekanan hidup, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyuarakan aspirasinya.

Baca Juga : 8 Trik Cerdas Berhemat Saat Skripsian, Biar Nggak Berulang Nge-Print ke Tukang Fotokopian

Yasa Singgih

Yasa Singgih Founder Men’s Republic

adalah founder dari Men’s Republic, sebuah brand fashion pria. Ia tidak lahir dari latar belakang pengusaha. Ayah dan Ibunya adalah pekerja kantoran. Karena hidup sederhana, sejak kecil Yasa sudah belajar untuk hidup dengan kerja keras.

Pada saat Yasa berada di kelas 3 SMP, sang ayah menderita sakit jantung. Hal inilah yang membuka matanya. Ia tak mau membebani kedua orang tuanya. Sejak saat itu, Yasa belajar untuk mencari uang  sendiri. Pekerjaan pertamanya adalah sebagai MC di sebuah pusat perbelanjaan. Ia menerima uang Rp 350.000 sekali tampil. Tidak hanya acara biasa, namun juga acara dewasa dibawakannyn.

Tidak jarang Yasa harus membawakan acara sebuah merek rokok yang diperuntukan kalangan 18 tahun ke atas, meskipun saat itu ia masih berbaju putih – biru. Dari uang tersebut, Yasa berinisiatif untuk memiliki bisnis. Berbagai bisnis sudah dilaluinya. Mulai dari berjualan kaos, hingga bisnis kafe. Namun, semuanya gagal. Bahkan, usaha kafenya merugi hingga ratusan juta. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk menjadi entrepreneur.

Pada tahun 2014, ayah Yasa pensiun setelah 30 tahun bekerja di perusahaan sepatu. Di sini, Yasa melihat peluang. “Papa sudah memiliki banyak pengalaman dan network di industri sepatu. Sayang sekali kalau berhenti karena pensiun. Saya mengutarakan niat saya untuk bikin bisnis sepatu. Dan, papa saya dengan senang hati membantu,” kata Yasa.  Ia bertemu dengan pabrik yang memberinya 250 pasang sepatu.

Baca Juga : Bingung Cari Tempat Nongkrong di Surabaya? Tempat ini Recommended Banget Buat Kamu!

Editor: Faizal Rachman