Hipwee Travel akan memberikan liputan khusus destinasi wisata populer di Indonesia. Kami menamainya Reportase Wisata. Tiap bulannya kami akan mengupas satu destinasi yang sering jadi impian para traveler. Tak cuma destinasinya saja, kami juga akan membahas sudut pandang dan cerita-cerita lain seputar destinasi tersebut yang tak pernah ternarasikan sebelumnya.

Untuk destinasi bulan ini pilihan kami jatuh ke Bali, pulau terpopuler di dunia yang cocok jadi destinasi akhir tahun. Ada 5 tulisan di Reportase Wisata Bali yang akan terbit setiap hari. Simak tulisan keempat yang akan membahas begitu murahnya Bali dijual ke turis China!

Beberapa minggu lalu, ada isu berkembang bahwa Bali dijual murah ke turis China. Turis asal negeri Tirai Bambu bisa datang ke Bali dengan begitu murahnya. Turis China tahun 2018 ini mendominasi jumlah kunjungan ke Bali. Bisa jadi hal ini terjadi karena murahnya berlibur ke Bali bagi mereka.

Di saat yang sama, Hipwee juga sedang melakukan reportase wisata ke Bali. Di Kim Soo Home, kami bertemu dengan beberapa turis dari berbagai negara. Salah satu yang dominan adalah turis asal China. Saat itu, banyak turis China yang kami temui. Sebanding dengan turis kulit putih yang berasal dari Australia ataupun Eropa. Terlihat bagus buat wisata Bali karena banyak turis China, namun kenyataannya tidak seindah itu.

Pertanyaannya, benarkah bahwa Bali benar telah dijual murah?

turis china di kim soo via www.hipwee.com

Sistem turis China masuk ke Indonesia bisa lewat travel agent dari China. Mereka mendapat subsidi atau sponsor dari toko-toko souvenir milik pengusaha China di Bali. Subsidi untuk travel agent itu sangatlah besar sehingga bisa menekan biaya trip para wisatawan dari China. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan oleh Elsye Deliana, Ketua Divisi Bali Liang Asita Denpasar.

Dalam setahun terakhir Bali hanya dihargai seharga 999 renminbi atau sekitar Rp 2 juta saja. Harga miring tersebut sudah termasuk tiket pesawat pergi-pulang, makan dan menginap di hotel selama 5 hari 4 malam. Bahkan backpackeran dari Jakarta pun nggak bisa lho dapat harga segitu. Belakangan harga tersebut makin turun dan makin nggak masuk akal. Belakangan, harganya menjadi 777 renminbi atau sekitar Rp 1,5 juta. Lalu semakin turun lagi menjadi 499 renminbi atau sekitar Rp 1 juta dan yang teranyar 299 renminbi atau sekitar Rp 600 ribu. Harga yang nggak logis sama sekali. Padahal normal harga liburan untuk turis China itu sekitar 600 USD atau 9 juta rupiah. Bisa dibayangkan pelayanan macam apa yang akan turis ini dapatkan jika trip ke Bali dengan harga 2 juta atau malah 600 ribu?

Hal ini tentu akan berpengaruh pada devisa atau pendapatan yang Bali dapatkan dari pariwisata. Uang yang beredar pun masuk ke China lagi

turis china via travel.tribunnews.com

Menariknya pembayaran turis China menggunakan aplikasi online seperti Alipay maupun WeChat. Jadi uangnya tetap di China. Sementara itu mereka ‘dipaksa’ masuk ke toko-toko yang sudah memberikan subsidi tersebut. Toko-toko tersebut juga kebanyakan menjual produk China sehingga uangnya lagi-lagi tidak kembali ke Bali. Jadi uang berputar di antara travel agent dan pengusaha China. Tidak ada yang didapatkan oleh warga Bali selain sampahnya saja. Alhasil meski China jadi negara paling banyak mengunjungi Bali dengan total 1,3 juta turis pun jadi kurang terasa manfaatnya dengan fakta tersebut. Model tur seperti itulah yang disebut Zero Dollar Tour.

Lantas bagaimana sikap pemerintah menyikapi hal tersebut?

turis china di bali via finance.detik.com

Zero Dollar Tour ini tentu merugikan dunia pariwisata di Bali. Pihak pemangku kebijakan pun segera menginvestigasi masalah ini dan akan menindak travel agent yang ilegal. Pemerintah juga menutup beberapa toko yang memang terindikasi melakukan kecurangan seperti ini. Toko-toko tersebut lah yang selama ini memberikan sponsor untuk turis datang ke Bali. Pemerintah daerah di Bali juga bekerjasama dengan pemerintah China untuk menindak travel yang bekerjasama dengan toko-toko yang curang tersebut. Alhasil dalam sebulan terakhir kunjungan wisatawan asal China turun 7-8 %. Toh nggak masalah sih turun daripada datang banyak turis namun tidak menguntungkan, ya sama aja. Biarkan dulu pemerintah menata regulasi agar prakter Zero Dollar Tour ini tidak terulang kembali di kemudian hari.

Bagaimana menurutmu nih polemik turis China yang nggak bawa dollar masuk ke Bali? Tulis opinimu di kolom komentar ya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya



[ad_2]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here