Jogja jadi buah bibir pembicaraan dalam beberapa waktu terakhir. Mulai dari kasus mahasiswi UGM, UMR yang murahnya nggak masuk akal, sampai dengan kejadian berbuntut SARA di Kotagede. Muncul banyak hujatan dan caci maki kepada Jogja, budayanya, warganya maupun Sultannya oleh netizen yang mahabenar. Ungkapan sok idealis seperti ‘ah Jogja nggak seperti dulu’, ‘bukan begini Jogja yang kukenal’, ‘Jogja sudah tidak toleran lagi’ menghiasi linimasa seakan sok tahu banget tentang Jogja. Padahal ia cuma melihat dan menilai dari linimasa belaka.

Sejak dahulu Jogja ya begitu. Sejak berkhidmat untuk Republik Indonesia, Yogyakarta menjadi sebuah Daerah Istimewa yang punya berbagai kebijaksanaan yang dianggap berbeda dengan provinsi lainnya. Toh karena itu pula kamu, kamu, kamu semua selalu datang ke Jogja saat liburan dan bikin kemacetan ‘kan? Oke ayo kita bahas macet saja kalau begitu.

Jogja macet parah saat memasuki waktu libur panjang Natal akhir pekan kemarin. Kemacetan begitu melelahkan dan seakan tidak ada habisnya

kemacetan jogja via jogja.tribunnews.com

‘Jogja sekarang macet, nggak kaya dulu.’

Jika ada seseorang mengendarai mobil berplat B dan berbicara seperti itu, sepertinya mending ‘dikeplak’ kepalanya untuk sekadar memberi pelajaran. Siapa sih yang lebih berhak mengeluh tentang kemacetan sebuah kota, kecuali warganya sendiri? Ya memang benar, Jogja kian macet. Apalagi saat libur panjang di mana banyak mobil dan bus masuk ke Jogja. Boleh sih mengeluh, tapi mbok ya sadar. Kontribusi utama dari kemacetan adalah mobil-mobil plat luar kota yang sedang liburan di Jogja. Ya kamu-kamu yang bereuforia dapat long weekend dengan liburan murah ke kota ini. Kami-kami orang Jogja sebenarnya kesel juga, tapi demi stigma keramahan warga Jogja, kami terima-terima saja kok mengalah untuk lebih tinggal di rumah dibanding bepergian. Sana deh penuh-penuhin jalan sesukamu.

Meski UMR tak seberapa, entah mengapa banyak apartemen hadir, mall dibangun terus menerus, hingga kemacetan yang semakin memuakkan. Ada apa dengan Jogja?

siapa yang kuat bermacet macet di depan mall ini? via wisataliburanjogja.blogspot.com

Jogja tentu tak sempurna. Di balik puja puji untuk nuansa Jogja yang istimewa, kota ini tetaplah kota biasa yang terus tumbuh besar meski UMR tak seberapa. Jangankan beli rumah, untuk biaya bulanan aja pas-pasan. Dapat apa sih uang 1,5 juta di Jogja. Coba deh orang Jakarta atau Bandung ditanya, uang segitu habis berapa hari di kota masing-masing?

Meskipun begitu, kepemilikan mobil kian meningkat pesat. Coba kita tilik datanya. Data dari Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, jumlah kendaraan roda 2 tahun 2016 sejumlah 71.566 unit. Sementara tahun 2017 meningkat 211 persen menjadi 222.915 unit. Sementara untuk kendaraan roda 4, tahun 2016 sejumlah 12.746 unit. Di tahun 2017 meningkat 344 persen menjadi 56.647 unit. Peningkatan macam apa ketika dalam setahun ada kenaikan 211 % dan 344 % jumlah kendaraan? Nggak masuk akal. Sementara jalan raya ya tetap segitu-gitu aja dan tambah sempit karena mobil yang parkir di badan jalan.

Kemacetan ini seyogyanya menyadarkan kamu semua kalau Jogja itu nggak cuma tercipta dari ‘Angkringan’ dan ‘Kenangan’. Ada pula kemacetan, kriminalitas, dan juga permasalahan sosial

jogja macet via jogja.tribunnews.com

Ya kamu mesti tau kalau Jogja nggak cuma terdiri dari romantika masa lalunya dengan kata-kata sakti Joko Pinurbo, Jogja tercipta dari rindu, pulang dan angkringan. Ada banyak permasalahan sosial di Jogja, mulai dari pemotongan salib di Kotagede, fenomena klitih yang makin meresahkan, hingga anggapan sebagai provinsi termiskin di Indonesia. Jogja adalah kota biasa seperti kota lainnya. Berhenti mengkultuskan Jogja, sekaligus berhentilah mencaci cara hidup dan cara pandang Jogja bila tak sesuai dengan keinginanmu. Jangan hina Sultan kami, jangan hina kota kami. Kamu boleh liburan di sini, silakan sekolah di kampus terbaik di kota ini, bahkan mencari rezeki di sini. Mari saling menghormati. Kedatanganmu pun sangat kami hormati meskipun bikin macet berhari-hari. Kami bisa sabar di rumah asal kamu bisa bahagia datang ke Jogja.

Jadi, jangan mengeluh lagi tentang kemacetan yang kamu bikin di sini ya. Cukup driver ojol yang mengeluh karena hanya dengan ongkos 3 ribu rupiah, seorang driver online harus menghabiskan waktu 2 jam di jalan. Cukup kuda delman di Malioboro yang sampai ambruk karena nggak kuat kamu klaksonin terus menerus. Jika kamu kecewa dengan Jogja, coba cek dirimu sendiri, jangan-jangan dirimulah yang sebenarnya mengecewakan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya



[ad_2]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here