Moisturizer untuk kulit berminyak khas dengan tekstur ringan seperti gel, tapi apa moisturizer yang berat tidak cocok untuk kulit dengan produksi sebum berlebih?

 

Seperti mayoritas perempuan Indonesia lainnya, jenis kulit saya adalah kulit berminyak. Selain karena pori-pori saya besar secara genetik, iklim tropis Indonesia juga berperan besar atas produksi minyak di wajah. Produksi minyaknya pun nggak santai, karena kulit saya cuma tahan 2-3 jam saja sebelum minyak menyerang! Selain berminyak banget, kulit saya juga acne prone karena kelenjar minyak yang lebih aktif. Kalau melihat rekomendasi-rekomendasi produk untuk kulit berminyak, tekstur yang ditawarkan biasanya lebih ringan seperti gel atau lotionBut what if I told you that my oily skin reacts better with heavier skincare products?

 

memencet-jerawat-female-daily-1

Pasti sudah banyak yang tahu kan soal skin barrier? Walaupun saya sudah lebih hati-hati dalam menjaga skin barrier dengan menghindari over exfoliation, kebiasaan saya menggunakan ojek online membuat faktor lingkungan dan polusi jadi alasan rusaknya skin barrier saya. Alhasil, minyak di wajah terasa lebih berat dan ‘kental’. Kalau muncul jerawat, jenis jerawatnya pun cystic acne alias jerawat yang mendem dan sakit kalau dipegang. Minyak di wajah juga makin banjir untuk mengkompensasi rusaknya skin barrier. Kalau sudah gitu, reflek saya malah mengeluarkan exfoliant dan obat jerawat untuk mengeringkan semuanya… Hahaha! Eh, bukannya sembuh, skin barrier saya malah tambah rusak dan kulit makin iritasi.

 

Akhirnya, saya kembali ke artikel jerawat yang pernah saya tulis dua tahun lalu dan mengaplikasikan kembali salah satu poin penting di sana: penggunaaan thick moisturizer. Ketika kulit saya lagi breakout parah banget, saya malah menggunakan pelembap yang teksturnya krim, bukan gel. Alhasil, saya pun menukar gel moisturizer Saturday Skin Waterfall Glacier Water Cream dengan Embryolisse Lait-Crème Concentrè di pagi hari dan Avene Cicalfate Repair Cream di malam hari. Hasilnya, kulit saya jadi jauh lebih manageable, jerawat malah berkurang, dan minyak di kulit jadi lebih well managed, lho. Kok bisa?

 

Baca juga: 3 Tipe Pelembap yang Kamu Wajib Tahu

 

Jadi, pelembap yang lebih thick dan berbentuk krim cenderung memiliki karakteristik occlusive atau mengunci kelembapan dalam permukaan kulit. Sebaliknya, pelembap yang lebih ringan dan berbentuk gel biasanya berfungsi sebagai humektan atau mengisi kekurangan air di kulit. Dalam kasus skin barrier yang sedang rusak, pelembap dengan karakter occlusive sangat bermanfaat untuk menjaga penguapan nutrisi dan air yang ada di kulit. Kebiasaan tidur menggunakan AC juga berperan besar dalam proses penguapan ini. Udara AC yang cenderung dingin dan kering, cenderung menarik kelembapan di kulit saat kita tidur, jadi seluruh produk skincare yang lain mungkin terbuang percuma tanpa berhasil bekerja dengan baik karena kulitnya dehidrasi. Ketika bangun tidur, bukannya terlihat glowing dan plump, malah terlihat sayu dan dehidrasi. Who wants to look like that? Kayaknya nggak ada kan?

 

Untuk mencegah over-moisturizing dengan pelembap yang lebih thick (dan malah bikin breakout!), kamu bisa menghindari bahan-bahan yang comedogenic seperti lanolin, coconut oil, dan soybean oil. Untuk membiasakan diri menggunakan tekstur pelembab yang thick, kamu bisa coba menggunakannya di malam hari dulu untuk menjaga penguapan nutrisi dan air saat di ruang ber-AC. Boleh juga semprot face mist seperti Avene Thermal Spring Water atau Evian Mineral Water Spray sebelum menggunakan pelembap tersebut agar teksturnya lebih ringan dan mudah menyerap dalam kulit. Tertarik mencoba?

[ad_2]

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here