Perkembangan desa-desa di Indonesia masa kini memang patut diacungi jempol. Makin banyak orang-orang yang mau berbenah demi mengembangkan daerahnya jadi lebih maju. Bahkan saat ini bermunculan desa wisata yang menawarkan potensinya buat dinikmati banyak orang dan menghasilkan uang. Hebatnya, mereka semua kreatif dan inovatif lo.

Salah satu contoh nyata adalah Desa Doudo di Gresik. Mereka mengembangkan desanya dengan konsep kampung tematik. Dikutip dari National Geographic, tiap Rukun Tetangga alias RT punya kewajiban buat membuat temanya sendiri dan fokus mengembangkan hal itu. Ada yang sengaja membuat kampung sayuran, kampung tanaman obat, hingga kampung lidah buaya. Hasilnya, berbagai penghargaan sudah pernah mereka raih. Yuk simak cerita inspiratifnya bersama Hipwee News & Feature~

1. Warga Desa Doudo, Gresik ingin punya lingkungan yang asri melalui kampung tematik. Ada kampung yang menanam sayuran, tanaman obat, dan juga lidah buaya

Nantinya tanaman obat dan sayuran yang ditanam bisa dijual dan jadi tambahan penghasilan. via nationalgeographic.grid.id

Awalnya, warga Desa Doudo, Gresik, mendapat tantang untuk menciptakan kampung yang asri. Dengan kreativitas mereka, akhirnya terwujudlah kampung tematik berbasis lingkungan. Tiap tingkatan Rukun Tetangga alias RT diharuskan membuat temanya sendiri. Contohnya saja di RT 1B yang pekarangan rumah warganya ditanami sayuran, RT 2 yang menanam tanaman obat untuk jamu, serta RT 5 memilih menanam lidah buaya yang perawatan dan budidayanya mudah. Nggak cuma bikin asri, tanaman itu juga bermanfaat buat kehidupan sehari-hari.

2. Mereka juga ingin lingkungannya bebas dari nyamuk dan ancaman penyakitnya. Akhirnya dibuatlah kampung yang menanam tanaman anti nyamuk

Menanam bukan cuma buat penghijauan aja, tapi dipilih tanaman yang bisa punya nilai tambah. via www.hipwee.com

Karena ada kawasan yang letaknya dekat dengan kebun, pasti deh sulit menghindari keberadaan nyamuk, terutama sih saat musim hujan. Akhirnya, RT 1A memutuskan untuk membuat kampung Si Cantik Cerdas yang merupakan akronim dari Siap Cari Jentik Cegah Demam Berdarah Sekarang. Tanaman seperti lavender, serai, dan jahe ditanam di pekarangan sebagai penghalau nyamuk alami. Itu ampuh lo mengurangi nyamuk di rumah.

3. Bahkan, rasa cinta terhadap lingkungan diwujudkan melalui kampung yang punya pengolahan air limbah, biopori, dan pembuatan pupuk kompos sendiri

Pembuatan biopori dilakukan secara mandiri. Nggak hanya buat menyimpan air, biopori juga digunakan untuk membuat pupuk kompos. via nationalgeographic.grid.id

Ada juga kampung yang membuat pengolahan air limbah rumah tangga sendiri bernama Kampung E-Link (Edukasi Lingkungan Inovatif dan Kreatif). Kebutuhan air buat menyiram tanaman dan budidaya lele diambil dari hasil Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal. Nggak hanya itu, mereka juga mewajibkan tiap rumah di RT 4 punya tiga biopori. Biopori itu berfungsi sebagai tempat pembuatan pupuk kompos dari limbah rumah tangga.

4. Nah, masalah soal sampah juga berusaha diselesaikan oleh mereka. Ada kampung khusus yang menerapkan pemanfaatan sampah dan prinsip 3R

Pot yang digunakan untuk menanam tanaman adalah wadah bekas seperti botol dan kaleng. via nationalgeographic.grid.id

Di RT 3, warganya berusaha selalu melakukan daur ulang serta memanfaatkan sampah. Ini sesuai dengan prinsip Reuse, Reduce, dan Recycle alias 3R. Pot tanaman yang ada di pekarangan warga menggunakan bekas botol plastik atau kaleng. Nggak hanya itu saja, asbak juga dibuat dari barang bekas. Semua sampah yang masih bisa dimanfaatkan, dimanfaatkan terlebih dahulu sebelum dibuang.

5. Hebatnya, sampah disana bisa dijadikan uang lo. Ya, mereka punya bank sampah yang dikelola bersama. Hasilnya penjualan nggak seberapa, tapi lumayan kok~

Sebelum dibawa ke gudang, sampah ditimbang dahulu dan dicatat di buku tabungan sampah. via www.viva.co.id

Yang lebih menarik lagi, dilansir dari National Geographic, mereka juga mengembangkan bank sampah yang dikelola sendiri yang diberi nama Bank Sampah Harapan. Ada petugas yang keliling untuk mengambili sampah dari warga. Nantinya sampah ditimbang lalu dihargai dengan uang. Harga per kilo sampah berbeda-beda tergantung jenisnya. Misalnya saja botol plastik dihargai Rp 1.500,00 per kilogram. Hasil penjualan diakumulasi dan dicatat dalam buku tabungan. Hasilnya memang cuma ratusan ribu per tahun, tapi itu lumayan lo buat menambah uang merayakan hari raya.

Dengan semua usaha warga dan keinginan kuat mereka menciptakan lingkungan yang asri, mereka sering lo dapat penghargaan ketika ikut kompetisi. Misalnya saja nih, Kampung E-Link memenangkan Best of The Best Pengelolaan Kawasan Lingkungan Berbasis Hijau pada ajang Gresik Berhias Tahun 2017. Wah keren ya kalau hal seperti ini bisa diterapkan pada daerah lain di Indonesia~

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here