Tanggal 22 Desember yang identik dengan perayaan Hari Ibu di Indonesia, kini juga mungkin harus jadi peringatan dari sebuah tragedi menyedihkan yang menelan ratusan korban jiwa. Pada hari itu, gelombang tsunami meluluhlantakkan daerah-daerah pesisir di sekitar perairan Selat Sunda. Menurut data terakhir dari Posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dilansir dari Kompas, tragedi ini menyebabkan 281 korban meninggal, 1.016 korban luka-luka, dan 57 orang masih dinyatakan hilang. Disamping tingginya angka korban dan kerusakan yang diperkirakan masih bisa bertambah, bencana ini juga menimbulkan banyak tanda tanya. Melalui twitnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyebut tsunami di Selat Sunda ini sebagai fenomena yang langka.

Berbeda dengan karakteristik gelombang tsunami yang biasa terjadi di Indonesia, tsunami ini terjadi tanpa didahului gempa besar maupun tanda-tanda surutnya air laut. Bahkan awalnya berbagai badan resmi seperti Pak Sutopo sendiri menyatakan bahwa yang terjadi bukanlah tsunami tetapi gelombang tinggi, sebelum akhirnya meminta maaf dan mengoreksi pernyataan tesebut.

Setelah analisis lebih lanjut, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), baru saja menjelaskan kesimpulan terakhir tentang faktor penyebab terjadinya tsunami di Selat Sunda dan kenapa tsunami ini hampir tidak mungkin diprediksi atau dikenali tanda-tandanya. Baca selengkapnya bareng Hipwee News & Feature yuk!

Awalnya sempat dikira ‘hanya’ gelombang tinggi karena purnama, tsunami di Selat Sunda ternyata disebabkan oleh aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Tsunami vulkanik ini memang tergolong langka, tapi pernah terjadi di Indonesia

Gunung Anak Krakatau sudah dipantau aktif dan terus mengeluarkan letusan kecil sejak Juni 2018 via www.nationalgeographic.com

Setelah mengonfirmasi tipe gelombang air laut yang terjadi di daerah pesisir Banten dan Lampung Selatan Sabtu malam (22/12), konsisten dengan tsunami — bukan hanya gelombang pasang tinggi, BMKG beralih ke fenomena alam lain yang juga sedang terjadi di sekitar wilayah tersebut yaitu meletusnya Gunung Anak Krakatau. Gunung api yang aktivitasnya terus meningkat sejak Juni lalu, memang dilaporkan meletus beberapa saat sebelum terjadinya tsunami. Tepatnya hanya sekitar 24 menit sebelum tsunami menerjang.

Melalui konferensi pers terbaru seperti dilaporkan Detik, Ketua BMKG Dwikorita Karnawati, menegaskan dugaan bahwa tsunami di Selat Sunda kemarin dipicu oleh aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Meskipun sangat langka sebagaimana Dwikorita menjelaskan bahwa 90% dari bencana tsunami di Indonesia dipicu oleh gempa tektonik, tsunami vulkanik sebenarnya juga pernah terjadi di negeri ini. Bahkan terjadinya di tempat yang sama, ketika gunung ‘pendahulu’ Anak Krakatau yaitu Krakatau meletus pada tahun 1883. Letusan dahsyat yang legendaris itu juga disertai tsunami besar.

Setelah meninjau langsung dan melihat citra satelit, BMKG dan Badan Geologi menyimpulkan bahwa tsunami terjadi karena dipicu oleh longsoran dalam laut akibat letusan Anak Krakatau

Terlihat jelas ada bagian Anak Krakatau yang collapse  via sains.kompas.com

Aktivitas Anak Krakatau memang telah dipantau semakin aktif sejak bulan Juni yang lalu. Namun tidak ada yang menyangka bahwa letusan Anak Krakatau yang dalam skala masih terhitung kecil, bisa menyebabkan tragedi fatal seperti tsunami pada tanggal 22 Desember kemarin. BMKG juga mengaku tidak memiliki akses maupun perangkat untuk memetakan potensi tsunami akibat erupsi gunung berapi. Berbeda dengan tsunami tektonik yang selama ini biasa terjadi di Indonesia, dimana BMKG dapat memberi peringatan potensi tsunami hanya dalam lima menit setelah gempa. Maka dari itu, kerjasama dengan pihak-pihak terkait seperti Badan Geologi sangat diperlukan untuk menentukan sebab dan mempelajari potensi tsunami vulkanik seperti ini.

Tsunami vulkanik sendiri ternyata jenisnya bermacam-macam. Dari yang dipicu longsoran, pembentukan kawah, sampai wedus gembel yang mendorong air laut naik

Foto udara Anak Krakatau tanggal 23 Des 2018, sehari setelah tsunami via www.antaranews.com

Menurut penjelasan volkanolog ITB, Dr. Mirzam Abdurachman, seperti yang dilaporkan Kompas, keberadaan gunung berapi di tengah laut atau di dekat pantai memang berpotensi memicu volcanogenic tsunami atau tsunami vulkanik. Pada dasarnya, letusan gunung api di laut bisa menyebabkan perubahan volume air laut secara tiba-tiba. Namun ternyata tidak semua letusan gunung api menimbulkan tsunami dengan cara yang sama. Bahkan tsunami yang dipicu Anak Krakatau akhir minggu kemarin, juga diindikasi berbeda dengan tsunami vulkanik dari Krakatau tahun 1883 yang lalu. Ada empat tipe mekanisme tsunami vulkanik, begini penjelasan singkatnya :  

  1. collapse atau robohnya kolom air karena letusan gunung api. Seperti layaknya meletuskan balon di dalam air, air akan ikut bergerak.
  2. terbentuknya kawah setelah letusan besar yang menyebabkan perubahan kesetimbangan air secara masif. Inilah tsunami vulkanik yang terjadi pada letusan Krakatau pada tahun 1883.
  3. longsor dalam laut karena collapse-nya material gunung yang memicu perubahan volume air laut di sekitarnya. Ini yang diduga terjadi di Selat Sunda
  4. aliran piroklastik atau ‘wedus gembel’ yang menuruni gunung dengan kecepatan tinggi dan mendorong permukaan air. Jika letak gunung dekat dengan pantai, letusan ini bisa menimbulkan tsunami yang berbahaya

Dua tipe pertama dari tsunami vulkanik ini biasanya juga diikuti oleh tanda surutnya permukaan air laut, namun tetap berbahaya karena biasanya menyimpan energi yang besar. Sedangkan tipe tsunami vulkanik ketiga dan keempat, meskipun gelombang yang dihasilkan lebih kecil namun tetap berbahaya karena tanpa didahului surutnya air laut. Terlebih lagi jika jaraknya dekat, gelombang yang relatif lebih kecil pun bisa sangat merusak.

Pahitnya, dari tragedi ini kita seakan-akan baru belajar betapa berbahayanya tsunami vulkanik. Makanya kita harus benar-benar lebih peka dengan beragamnya potensi bencana yang ada di negeri ini #PekaBencana

Butuh kajian lebih lanjut tentang tsunami vulkanik di Indonesia via dunia.tempo.co

Belum sembuh dari trauma yang disebabkan bencana gempa Lombok dan tsunami Palu, tahun 2018 harus diakhiri dengan tragedi lain yang tampaknya menyergap bangsa ini tanpa peringatan. Bukan lagi masalah alat pendeteksi dini yang tidak berfungsi atau dicuri, kini kita harus bisa mempelajari dan memetakan lebih jauh potensi tsunami yang disebabkan oleh erupsi gunung berapi di Indonesia.

Kok banyak banget sih bencana yang ada di Indonesia? Mungkin banyak yang merasa kesal sendiri karena banyaknya tipe bencana alam yang mengintai negeri ini, tetapi itulah realita yang harus kita terima bersama. Semua aspek masyarakat, baik dari pemerintah maupun masing-masing individu, harus bersiap lebih baik untuk menghadapi segala potensi bencana di Indonesia. Kalau lebih peka terhadap potensi bencana, kita pasti akan bisa tumbuh sebagai bangsa yang lebih kuat. #PekaBencana yuk!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here